Kabar Para Perempuan Pembunuh Dari Koran

by - April 29, 2023

 Selama sepekan kota ini ribut dengan berita yang sangat mengejutkan. Cobalah baca koran pagi kali ini dan bandingkan dengan koran kemarin dan lusa. Semuanya menerbitkan berita yang sama tentang sekumpulan perempuan yang menjadi tersangka pembunuhan seorang lelaki. 


Beberapa orang langsung mengeluarkan sumpah serapah dari mulutnya kepada perempuan-perempuan yang lewat depan rumahnya. Beberapa ibu-ibu langsung memeluk anak perempuannya untuk memastikan mereka baik-baik saja. Beberapa tertawa karena akhirnya perempuan bisa melakukan pembunuhan. Tidak jelas tawa jenis apa yang mereka keluarkan, mungkin ada yang menganggap itu hanyalah komedi belaka, mungkin pula tawa kebanggaan.


“Dunia macam apa yang sedang kami tinggali saat ini!”. Begitu jerit mereka ketika mendapati berita mengerikan tersebut.


Jadi begini ceritanya. 


Kala itu adalah musim yang sulit bagi kebanyakan orang. Teriakan bayi lebih kencang dari biasanya dan sulit mendapati rumah-rumah yang cerobongnya berasap. Orang-orang bekerja tidak layak karena harus mengerahkan tenaganya dua kali dari biasanya. Laki-laki bekerja sebagai buruh kasar. Mereka menjual habis tenaga mereka. Sedangkan perempuan menjual harga diri mereka karena tidak mempunyai tenaga yang besar. Bar mulai bermunculan dimana-mana.


Kecuali rumah-rumah besar tentu saja. Tak banyak rumah besar dikota tersebut, karena kotanya sendiri kecil saja. Pemilik rumah besar kebanyakan berjumlah satu-dua orang saja. Selebihnya adalah para pengurus rumah besar. Mereka mengurus kebun-kebun, dapur dan ruangan-ruangan. Rumah besar memiliki apa saja yang penghuninya perlukan; makanan, minuman, hewan kesayangan dan kebun. Tapi tidak ada kehidupan sempurna bagi setiap orang dikota itu. 


Ada satu rumah besar disudut kota yang dihuni sepasang suami istri. Mereka juga memiliki anak. Sang suami bekerja di kota sebelah dan pulang seminggu sekali. Sedangkan sang istri adalah perempuan yang sangat pandai mengurus rumah tangga. Ia sendiri merasa tidak membutuhkan banyak pengurus rumah. Ia senang membersihkan rumahnya, masakannya selalu enak jika ia buat sendiri dan ia senang merawat bunga. Satu-satunya yang ia butuhkan adalah pengurus kuda-kuda karena butuh tenaga ekstra merawat hewan itu, bukan berarti ia tidak bisa merawat kuda.


Suatu hari ia merasa ada yang salah dengan kepalanya sehingga ia menenangkan diri dengan berjalan-jalan keluar kota. Karena kehujanan ditengah jalan, ia ditemani asisten setianya mampir ke sebuah bar di kota sebelah. Ia masuk kedalam dan mendapati banyak pasang mata menatapnya sinis. 


“Ada apa dengan orang-orang ini?” bisik sang istri kepada asisten pribadinya. Asisten pribadinya adalah wanita bermuka dingin, dengan singkat menjawab, “tidak tahu nyonya”.


Mereka berdua kemudian duduk memesan minum ke bartender. Sang asisten memperhatikan wajah-wajah bermuka sinis yang tadi melihat sang nyonya. Ia kira hanya sedikit namun ternyata semua orang di bar melihat mereka dengan tatapan sinis. Beberapa dari mereka bahkan terasa familiar dimatanya. Sang asisten merasa melihat beberapa dari mereka di suatu tempat.... Sang nyonya acuh tak acuh menikmati saja minumannya. 


Tiba-tiba datang seorang perempuan yang sangat cantik dan tubuhnya sangat molek menghampiri mereka. Ia duduk disebelah sang nyonya sambil tersenyum mencurigakan. Ia ikut memesan minuman yang sama dengan sang nyonya. Mata sang asisten pribadi langsung awas, mengantisipasi tindakan yang tidak diinginkan. 


“Anda, baru sekali datang kesini bukan?” tanya perempuan asing tersebut sambil tersenyum. Sang nyonya hanya mengangguk. “Saya bekerja disini,” ujar perempuan tersebut. “Saya bekerja untuk suami anda” lanjutnya sambil menyeringai.


Sang nyonya langsung tersentak dengan ucapan perempuan tersebut. Napasnya terengah-engah. “Apa kau bilang?!”. Asisten pribadinya langsung berdiri disamping sang nyonya. Ia memperhatikan orang-orang yang menoleh ke arah mereka seakan-akan pertunjukan drama yang menarik.


“Suami anda nyonya, senang sekali berkunjung kesini” ujar perempuan tersebut santai. Ia meminum minumannya dengan perasaan senang. “Saya bekerja untuknya, anda tahu orang seperti saya ini nyonya”.


“Sejak kapan?”


“Kapan?” perempuan itu mengerutkan kening mengingat-ngingat. “Sejak lama nyonya... lama sekali”

“Dimana ia sekarang?”


“Keberuntungan miliknya nyonya. Saya tidak bertemu dengannya hari ini” 


“Adikku,” ia memanggil asisten pribadinya. “Carilah ia dan bawa ia kehadapanku!”. Wanita berwajah dingin itu mengangguk. Ketika ia hendak pergi tiba-tiba muncul keributan dari arah panggung. Sang nyonya, asisten pribadi dan perempuan cantik itu buru-buru mendekati asal keributan.


“Ya Tuhan!” seru mereka. 


Sang nyonya terkesiap melihat apa yang sedang terjadi. Suaminya tergeletak tak sadar bersimbah darah disamping seorang wanita berambut pendek yang entah mengapa sejak awal berada disana. Ia menatap mayat laki-laki itu dengan dingin, setetes air mata keluar dari matanya. Entah apa arti tatapan wanita rambut pendek itu. Ia seperti sedih dan puas sekaligus. Sang nyonya menatap garang wanita berambut pendek itu, “apa yang kau lakukan!”

Perempuan berambut pendek tersebut menatap kosong sang nyonya, “aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak melakukan apa-apa”. Ia mengucapkan itu berulang kali dengan ekspresi yang sama. Sang nyonya menatap jerih wanita berambut pendek tersebut. Ia beralih menatap perempuan cantik yang tiba-tiba mendatanginya tadi. 


“Nyonya!” seru perempuan itu “Saya bersama anda sejak awal! Bagaimana anda berpikir saya pelakunya?!” suaranya bergetar ketakutan. Sang nyonya menatap perempuan itu tidak mengerti. “Bagaimana ini bisa terjadi! Kau pasti lebih tahu perbuatannya akhir-akhir ini bukan? Katakan padaku apa yang terjadi padanya?! ”


“Saya tidak tahu nyonya! Bukankah saya yang harusnya bertanya pada anda tentang hal itu?” perempuan cantik itu mengibaskan rambutnya. “Yang saya lakukan dengan suami anda hanyalah bisnis semata. Harusnya anda tahu itu. Bukankah seorang istri banyak menyimpan rahasia suaminya?”


“Benar,” ujar wanita berambut pendek. “Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Kau harusnya tahu itu”


Sang nyonya merasa tersudutkan. Ia dan suaminya tidak membicarakan hal-hal seperti itu akhir-akhir ini. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing tapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan dibalik itu. Mereka masih saling menyapa di pagi hari dan juga saling memuji pekerjaan masing-masing. Suaminya memang pulang seminggu sekali sedari dulu, ia tahu persis itu. Lalu mengapa hal-hal ini terjadi diluar perkirannya?.


Lamat-lamat sang nyonya memandang perempuan rambut pendek itu. Ia sepertinya pernah bertemu dengannya di suatu tempat, di suatu waktu yang sangat silam. Kala itu... saat ia masih muda dan belum menikah. Seorang laki-laki bersama seorang perempuan berambut pendek. Mereka terlihat bersenang-senang di tepi danau. Kelak laki-laki itu menjadi suaminya dan perempuan berambut pendek itu entah kabarnya. Tapi saat itu perbedaan kasta sangat mempengaruhi hubungan manusia. Perempuan berambut pendek itu berbaju lusuh.


Mirip sekali dengan perempuan ini, gumam sang nyonya. “Apa kau mengenal suamiku?” tanya sang nyonya pada perempuan itu. “Aku bertemu dengannya belum lama ini, sebulan yang lalu. Saya rekan kerjanya” jawab perempuan berambut pendek. “Tapi aku hanya pekerja kecil saja”.


Memang tidak ada pekerjaan besar bagi perempuan, Perempuan ini pasti memiliki otak yang sangat bagus, gumam sang nyonya.


“Saya juga hanya melakukan pekerjaan kecil ditempat yang besar,” ujar sang nyonya sambil lalu. Ia berbalik badan meminum minuman yang tadi belum ia habiskan. Ia berdiam sebentar setelah menghabiskan minumnya. 


“Tentu saja kau pasti perempuan itu.” Ujar sang nyonya sambil menunjukk perempuan berambut pendek. “Perempuan yang bersama suami saya sebelum kami menikah. Tentu saja kalian masih memiliki perasaan satu sama lain.”


“Dengan seluruh harga diriku nyonya, kukatakan tidak.” Ia menunjuk mayat suami sang nyonya. “Ia yang memiliki perasaan terhadapku. Nyonya, mengapa kau tidak acuhkan tingkahnya selama ini? kuyakin suamimu tak sekali dua-kali membicarakanku. Kau hanya sibuk dengan semua urusan kecilmu. Ketika hal ini terjadi kau malah membabi buta menyalahkan orang lain? Dalam hal ini nyonya, kurasa aku lebih baik darimu!”


“Lagipula untuk apa aku membunuh laki-laki sepertinya? Menghabiskan tenagaku saja.” Gerutu si perempuan berambut pendek itu.


“Saya tahu kau tak sepenuhnya memiliki dendam terhadap suami saya. Kamu dendam terhadap saya karena mengambil harapan hidup anda. Suami saya adalah orang yang baik dan senang memperhatikan orang-orang disekitarnya. Itu benar ia berulang kali membicarakan kamu. Saya tahu diri, jadi saya membiarkannya. Tapi kamu jadi membenci suami saya karena ia telah memiliki saya dan kamu adalah perempuan yang baik sedari awal jadi tidak mau mengganggu hubungan kami.” sang nyonya menundukkan kepalanya. Ia memainkan untaian manik-manik di lengannya. Asistennya tahu gestur itu. Sang nyonya sedang sedih. 


Sang asisten membersamai nyonya sudah lama sekali, bahkan sejak mereka masih remaja. Dimatanya, sang nyonya adalah perempuan yang selalu berusaha kuat dan tak ingin memperlihatkan kesedihannya dihadapan orang-orang. Sang nyonya berusaha tumbuh menjadi seorang wanita yang diinginkan orang-orang; anggun, cantik, keibuan, lemah-lembut, dan bisa diandalkan dalam keadaan apapun. Demi hal itu sang nyonya selalu menyembunyikan kelemahannya dihadapan orang-orang. 


Dalam hal seperti ini sang nyonya paham, tak banyak yang bersimpati padanya atas segala peristiwa yang terjadi saat ini. Ia memiliki segalanya, jadi buat apa mengasihani?. Bahkan bisa saja ia yang dituduh melakukan pembunuhan berencana terhadap suaminya. Ia akan dianggap sebagai perempuan keji dan bermuka dua. Dia mendapat keuntungan dari kematian suaminya. Satu hal itu cukup menjadi bukti kejahatannya.


“Apa yang kau maksud nyonya?” tanya perempuan berambut pendek itu. Sang nyonya mengangkat kepalanya. “Apa?”


“Aku benar-benar rekan kerja suamimu dan tidak pernah bertemu sebelumnya...” ujar perempuan tersebut. Ia menatap sang nyonya aneh. “Hal-hal yang tadi anda sebutkan hanya gurauan bukan?”

“Apa? tidak, kupikir, kau...” sang nyonya mendadak terbata-bata. 


“Aku tidak membunuhnya nyonya. Aku dipaksa suami anda datang kesini. Aku ingin menolak dan berusaha kabur. Saat aku lewat sini, tiba-tiba saja suami anda tergeletak tepat di depanku. Anda mungkin tidak percaya, tapi itulah kenyataannya!” jelas perempuan berambut pendek. Ia meninggikan suaranya bertanda ia sungguh tidak melakukannya.


“Lalu siapa?” tanya sang nyonya. Ia menatap sekitar mencari-cari seseorang yang mencurigakan. Sang asisten membantu memeriksa sekeliling.

“Oh!” seru si perempuan cantik bertubuh molek. Ia menunjuk seorang perempuan yang berseragam tukang bersih-bersih sedang membawa alat kebersihan keluar bar. “Hujan begini untuk apa kau membersihkan halaman depan?”


Pandangan semua orang langsung tertuju pada tukang bersih-bersih itu. “Lagipula sepertinya aku baru pertama kali melihatmu!” lanjut perempuan cantik. 

Tukang bersih-bersih itu memiliki perawakan seperti perempuan. Ia tidak tinggi dan rambutnya hanya sebahu sama seperti perempuan rekan kerja suami sang nyonya tadi. Kebanyakan pekerja perempuan memang memotong pendek rambutnya.


Perempuan tukang bersih itu berbalik badan dan tersenyum. “Aku harus membersihkan banyak jejak kaki. Dan aku bukan siapa-siapa, aku hanya melakukan hal yang kuinginkan saja.”


Asisten pribadi sang nyonya merasa janggal dengan senyum itu. “Nyonya,” panggil sang asisten. “Apa anda tidak curiga?”


Sang nyonya menoleh kepada asistennya dan memberi tanda lewat matanya. Ia setuju dengan ucapan sang asisten. Ia adalah perempuan di danau itu. Kekasih suaminya di masa lalu.


Diluar, hujan semakin lebat disertai petir. Seperti itulah kiranya yang dirasakan sang nyonya dan perempuan mantan kekasih suaminya itu. Badai adalah milik para perempuan di kota itu. Semua perempuan memiliki badainya sendiri-sendiri. Mereka mengendalikan badai seperti meninabobokan seorang bayi. Perempuan mengasihinya, membesarkannya dengan sepenuh hati dan disaat yang sama perempuan tidak bisa begitu saja meninggalkannya. Sama seperti anaknya sendiri, ia tersakiti karena badai sekaligus tidak bisa lepas darinya.


Pintu bar terbuka lebar mengakibatkan angin dan rintik air menciprati orang-orang yang berdiri di dekat pintu. Perempuan badai itu tidak menyingkir dari pintu. Sang nyonya menghampirinya dan berbisik tanpa suara, “Saya tahu itu anda.” Sang nyonya tersenyum. Ia memeluk perempuan badai itu dan berterimakasih. Ia menggenggam tangan perempuan badai dan membawanya pergi ketengah derasnya hujan. 


Mereka menyatu dengan jiwa mereka.


***


Sehari setelahnya, sang nyonya, perempuan badai, wanita cantik dan molek, serta perempuan berambut pendek muncul di berita sebagai tersangka. Sehari setelahnya mereka hilang. Penduduk kota beranggapan bahwa mereka kadang-kadang terlihat selintas di sudut-sudut kota. Mereka menghantui kota.





You May Also Like

0 comments

Thanks for read my blog