ANOTASI BAB 1 BUKU I WANT TO DIE BUT I WANT TO EAT TTEOPOKKI 2 KARYA BAEK SE HEE DAN PERTANYAAN TENTANG SIKAP MENULIS YANG BURUK

by - Desember 08, 2022

 Hari ini aku baca bukunya Baek Se Hee yang judulnya I Want To Die But I Want To Eat Tteopokki tapi yang keduanya. Nggak heran kenapa buku ini bisa best seller dan dibaca sama idol Korea karena emang se-relate itu sama kehidupan.

pict: Fimela

Walaupun baru baca bab 1 tapi aku udah mendapat banyak pemahaman.

Dulu, walau aku suka nulis catatan harian, aku sering tidak tahu apa yang harus aku tulis. Dulu alasan aku nulis buku harian adalah biar nggak kelewatan banyak catatan hidup. Walau aku nulis tentang perasaan aku, aku suka nggak ngerti kenapa aku bisa marah dan capek hari itu. Aku Cuma nulis aku marah dan capek sebagai pelampiasan aja tanpa diusut mengapa aku bisa gitu. Pas aku baca buku ini dan ternyata Baek Se Hee nulis catatan harian juga, aku jadi paham apa yang harus aku tulis dibuku catatan itu. Aku harus nulis kejadian apa aja yang bikin aku nggak enak di hari itu. Gara-gara banyak tugas, tugas kelompok berasa tugas individu, atau karena aku takut dicap aneh sama orang-orang. Seenggaknya itu yang harus diperjelas.

Kedua, aku dapet pemahaman untuk selalu menceritakan hal-hal yang bikin aku nggak enak. Karena anehnya, kadang ketika kita lagi kesal sama sesuatu, terus curhat ke temen, ternyata apa yang kita rasain itu remeh temeh aja. Dulu aku ngira kalau gitu malah jadi nggak penting karena kita cerita hal yang remeh doang. Tapi sekarang berpikir berarti hal yang bikin kesel tuh udah mulai dikeluarkan dari diri kita. Hanya saja yang kita khawatirkan tentu saja reaksi pendengarnya. Seringkali kita mendapat reaksi yang nggak sesuai ekspetasi.

Kemudian aku ada satu pertanyaan yang berkaitan dengan sastra tentang pernyataan Baek Se Hee ini yang bilang kalau buku-buku semisal ini, yang menceritakan tentang luka atau penderitaan diri dianggap sikap menulis yang buruk karena membawa-bawa personalitas hingga tidak objektif dan malah terbawa kedalamnya. Apa yang dimaksud dengan ‘sikap menulis yang buruk’ tersebut? Apakah memang tabu atau kontroversial untuk menulis hal semacam ini?. Aku sempat membaca kalau buku ini memang kontroversi di Korea karena jarang ada buku yang membahas hal personal sepeti ini. Apakah statement itu hanya berlaku di Korea atau malah berlaku di negara lain juga termasuk Indonesia?

Aku baru baca satu bab dari buku ini. Untuk bab-bab selanjutnya kemungkinan besar aku menulis catatan seperti ini juga.

You May Also Like

0 comments

Thanks for read my blog