Dosa Malaikatku.
Berdoa, menutup mata
Berdoa, meminta ampunan
Berdoa, menengadahkan tangan
Hidupku adalah dosa: dosa ayahku, dosa ibuku, dosa
seluruh kawan-kawanku. Sedangkan aku, dosaku adalah kelahiranku.
Dosa dan doa. Kata itu begitu mirip. Kata mereka selama
aku masih ingat kata dosa, aku harus berdoa.
Lampu-lampu gantung dan lantai putih marmer juga
jendela-jendela dengan angin kosong.
Saksi, mereka adalah saksi.
Darah semerah mawar. Aku melukis mawar dari darah-darahku
yang kusimpan.
Tes,
Darah mengalir dari hidungku.
Satu dosaku terampuni.
Tap, tap, tap...
Itu bukan detik jam, tak ada waktu disini
Itu bukan detak jantungku,
Bukan pula rintik air.
Tap,
Suaranya berhenti disampingku
Aku membuka mata, dosaku bertambah dan aku tersenyum.
Satu-satunya dosa yang tak ingin diampuni.
Malaikat mautku menyerahkan secarik kain, menghapus darah-darahku.
***
Aku ingat dalam doa-doaku, aku menyelipkan doa tentang
seorang penolong, penyelamatku dari dosa-dosaku. Itu adalah doa yang keluar
kala aku tidak menyadarkan diri, kala aku marah atas dosa-dosaku.
Itu bukanlah dosaku! Itu adalah kutukan masyarakat
padaku!.
Kematian orangtuaku, kematian sahabat-sahabatku mereka bilang
karena kelahiranku: malapetaka, prahara dunia.
Walau pada akhirnya, aku mengalah. Karena aku lelah.
Berdoa, menutup mata.
Berdoa, meminta ampunan.
Berdoa, menengadahka tangan.
Terus, terus dan terus sampai bulan tak muncul lagi
dilangit malam.
Lalu dalam hujan-hujan badai, penolongku, penyelamatku
datang membawa payung hitam. Memayungiku tanpa kata, tanpa sesuatu yang
memunculkan pelangi usai hujan turun.
Ialah malaikatku.
Aku membutuhkan uluran tangannya untuk menghapus darahku,
membantuku melukis mawar.
Aku mengharapkan payung hitamnya. Dalam hujan-hujan
badai.
Karena dengan itulah aku merasa dosaku terampuni.
Namun, aku salah.
***
Dunia telah berakhir, ucapnya.
Langit dan bumi tak akan menyatu. Tak perlu kau kagumi
langit kalau kau merasa dirimu bumi karena masing-masing mengagumi
keindahannya.
Berdoalah, ucapnya. Berdoalah untuk dirimu sendiri. Dosamu
tidak seluas samudra ataupun cakrawala.
Pada matanya kulihat badai prahara dan mawar-mawar merah
rimbun.
Bukan mawar milikku, itu miliknya.
Kemudian ia tinggalkan payung hitamnya dan secarik kain
yang sering ia beri padaku.
Dosa-dosaku,
Doa-doaku,
Malaikatku,
Penolongku,
Penyelamatku,
Hujan badai merebah,
Mawar kian merekah,
Lantai putih marmer berubah merah,
Tak sanggup kutampung darah,
Meluaplah.
Kukira hanya aku yang berdoa dan berdosa.
Namun ia, penyelamatku. Aku adalah salah satu dosanya.
Dan ia sama sepertiku, terpaksa mengalah karena lelah.
Padaku.
Takdir memang ditakdirkan untuk terjadi berulang kali.
Aku bersandar dipangkuannya. Tanpa senyum, tanpa sesuatu
yang menerbitkan mentari.
Hujan merintik dikepalaku, namun payung hitamnya taka
akan lagi terkembang untkku.
Darahku mengalir hingga ke mata kakinya, namun tak akan lagi tangannya
terulur padaku.
Malaikatku berlutut dihadapanku.
Tangannya mencolek lantai yang merah dan ia guratkan dihidungnya.
Ia tersenyum,
Aku tertawa.
Tuhanku, apakah kau mengirim malaikat untuk membunuhku
lagi dan lagi?
Ia berdoa, menutup mata.
Ia berdoa, meminta ampunan.
Ia berdoa, menengadahkan tangan.
0 comments
Thanks for read my blog