Dosa Malaikatku.

by - November 30, 2022

 

Berdoa, menutup mata

Berdoa, meminta ampunan

Berdoa, menengadahkan tangan

Hidupku adalah dosa: dosa ayahku, dosa ibuku, dosa seluruh kawan-kawanku. Sedangkan aku, dosaku adalah kelahiranku.

Dosa dan doa. Kata itu begitu mirip. Kata mereka selama aku masih ingat kata dosa, aku harus berdoa.

Lampu-lampu gantung dan lantai putih marmer juga jendela-jendela dengan angin kosong.

Saksi, mereka adalah saksi.

Darah semerah mawar. Aku melukis mawar dari darah-darahku yang kusimpan.

Tes,

Darah mengalir dari hidungku.

Satu dosaku terampuni.

Tap, tap, tap...

Itu bukan detik jam, tak ada waktu disini

Itu bukan detak jantungku,

Bukan pula rintik air.

Tap,

Suaranya berhenti disampingku

Aku membuka mata, dosaku bertambah dan aku tersenyum.

Satu-satunya dosa yang tak ingin diampuni.

Malaikat mautku menyerahkan secarik kain, menghapus darah-darahku.

***

Aku ingat dalam doa-doaku, aku menyelipkan doa tentang seorang penolong, penyelamatku dari dosa-dosaku. Itu adalah doa yang keluar kala aku tidak menyadarkan diri, kala aku marah atas dosa-dosaku.

Itu bukanlah dosaku! Itu adalah kutukan masyarakat padaku!.

Kematian orangtuaku, kematian sahabat-sahabatku mereka bilang karena kelahiranku: malapetaka, prahara dunia.

Walau pada akhirnya, aku mengalah. Karena aku lelah.

Berdoa, menutup mata.

Berdoa, meminta ampunan.

Berdoa, menengadahka tangan.

Terus, terus dan terus sampai bulan tak muncul lagi dilangit malam.

Lalu dalam hujan-hujan badai, penolongku, penyelamatku datang membawa payung hitam. Memayungiku tanpa kata, tanpa sesuatu yang memunculkan pelangi usai hujan turun.

Ialah malaikatku.

Aku membutuhkan uluran tangannya untuk menghapus darahku, membantuku melukis mawar.

Aku mengharapkan payung hitamnya. Dalam hujan-hujan badai.

Karena dengan itulah aku merasa dosaku terampuni.

Namun, aku salah.

***

Dunia telah berakhir, ucapnya.

Langit dan bumi tak akan menyatu. Tak perlu kau kagumi langit kalau kau merasa dirimu bumi karena masing-masing mengagumi keindahannya.

Berdoalah, ucapnya. Berdoalah untuk dirimu sendiri. Dosamu tidak seluas samudra ataupun cakrawala.

Pada matanya kulihat badai prahara dan mawar-mawar merah rimbun.

Bukan mawar milikku, itu miliknya.

Kemudian ia tinggalkan payung hitamnya dan secarik kain yang sering ia beri padaku.

Dosa-dosaku,

Doa-doaku,

Malaikatku,

Penolongku,

Penyelamatku,

Hujan badai merebah,

Mawar kian merekah,

Lantai putih marmer berubah merah,

Tak sanggup kutampung darah,

Meluaplah.

Kukira hanya aku yang berdoa dan berdosa.

Namun ia, penyelamatku. Aku adalah salah satu dosanya.

Dan ia sama sepertiku, terpaksa mengalah karena lelah.

Padaku.

Takdir memang ditakdirkan untuk terjadi berulang kali.

Aku bersandar dipangkuannya. Tanpa senyum, tanpa sesuatu yang menerbitkan mentari.

Hujan merintik dikepalaku, namun payung hitamnya taka akan lagi terkembang untkku.

Darahku mengalir hingga ke mata kakinya, namun tak akan lagi tangannya terulur padaku.

 

Malaikatku berlutut dihadapanku.

Tangannya mencolek lantai yang merah dan ia guratkan dihidungnya.

 

Ia tersenyum,

Aku tertawa.

Tuhanku, apakah kau mengirim malaikat untuk membunuhku lagi dan lagi?

Ia berdoa, menutup mata.

Ia berdoa, meminta ampunan.

Ia berdoa, menengadahkan tangan.

You May Also Like

0 comments

Thanks for read my blog