Asmaradana: Balada Cinta Anjasmara

by - Oktober 17, 2022

 Asmaradana

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning. 

Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakan bimasakti, yang


jauh. Tapi diantara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.


Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian  itu. Ia melihat peta, nasib, 

perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.


Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba,

karena ia tak berani

lagi.


Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.

Bulan pun lambat dalam angin, abai dalam waktu.

Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,

kulupakan wajahmu.

(Goenawan Muhammad)

 Ini adalah salah satu puisi kesukaan gue. Bercerita tentang romansa tapi tidak klise, cengeng mendayu-dayu. Bahkan lewat puisi ini kita bisa  mendefinisikan kembali makna kehilangan dan keikhlasan.

Well, berkat puisi ini gue akhirnya berkenalan dengan salah satu tokoh wanita epos jawa yaitu Anjasmara. Udah sering denger sebenarnya tapi nggak 'ngeh' kalau puisi ini membahas salah satu segmen kehidupannya yang jarang banget dibahas orang-orang.

Sebelumnya gue mohon pengertiannya buat yang baca kalau gue bakal sediikit emosional ;)

Anjasmara adalah salah satu tokoh dalam epos jawa Damar Wulan. Damar Wulan sendiri awalnya anak desa biasa namun memiiliki keinginan untuk menjadi prajurit Majapahit sehingga ia pergi meninggalkan desanya.

Di 'kota' ia tinggal dirumah pamannya, Patih Logender dan diberi pekerjaan yang kurang 'dipandang' sebagai pemelihara kuda-kuda milik sang patih. Disinilah ia berkenalan dengan Anjasmara yang merupakan anak dari sang patih. Seperti yang kita duga, akhirnya mereka saling mencintai satu sama lain. Udah 'cinlok', first love lagi :).

Sayang beribu sayang, hubungan keduanya nggak direstuin. Tapi tetep aja nih, mereka nggak mau pisah.

Sampai suatu saat Patih Logender dipanggil Dyah Ayu Kencono Wungu alias Sang Ratu Majapahit bahwa dia dilamar Menak Jinggo. Padahal si Menak Jinggo ini adalah penguasa Blambangan yang nggak mau tunduk sama Majapahit. Pasti reaksi Kencono Wungu kayak... 'Siapa anda? SKSD banget ngajak-ngajak nikah padahal musuh...'. Ilfeel berat-_-.

Nah, buat nolak lamaran itu, Kencono Wungu sampai-sampai berdoa minta wangsit buat ngalahin Menak Jinggo. Jeng-jeng, ternyata yang bisa mengalahkan Menak Jinggo adalah Damar Wulan. Ini kabar baik atau buruk ya buat DamarWulan? kenapa aku sampai bertanya-tanya karena... ratu cantik nan jelita Dyah Ayu Kencono Wungu bilang kalau ada yang terbukti mengalahkan Menak Jinggo, bakal dipersuami sama dia!.

Jujur pas baca sampai disini, kepalaku penuh dengan pikiran-pikiran Anjasmara. Auto nge-lag haha. Malah jadi throwback keceritanya Sinta waktu disuruh terjun kelubang bumi oleh Rama untuk membuktikan kesetiaan. Just like... oh what the hell with the woman in the javanese folklor?. Dan alhasil Sinta beneran terjun kelubang bumi dan nggak kembali lagi sedangkan Rama dibunuh sama anaknya sendiri, Lawa dan Kusya! Mereka dendam sama ayah sendiri yang nggak percaya juga sama kesetiaan ibunya, Sinta. 

Ini cocok banget diimplementasikan dikehidupan nyata nggak sih? *ups.

Balik lagi ke cerita Anjasmara...

Nah, karena ditugaskan, Damarwulan yang patuh dan pekerja keras ini pun berangkat. Pamit dulu sama Anjasmara. Dan puisi diatas menggambarkan suasana perpisahan mereka *aaakk mau nangis :(. Saking beratnya sampai ngomong aja nggak bisa, mulut tiba-tiba membisu.

Kepikiran dong, betapa beratnya buat Anjasmara ditinggalin sama orang yang dicinta, apalagi karena tugas, mana tugasnya perang lagi!. Dan nggak ada satupun pilihan yang cukup baik buat dia. Kalau menang, dinikahin sama ratu. Kalau kalah bisa dipastikan mati dimedan tempur. 

See? kenapa perempuan suka nggak bisa milih apapun buat memperbaiki takdirnya?.

Ah... tapi sayangnya Anjasmara nggak mau nangis. Kenapa gue bilang sayang banget, karena Anjasmara udah terlampau takut, lelah akan kehilangan. Dan dalam dunia psikologi pun, nggak bisa nangis itu berarti mentalnya udah terlalu rapuh. Jadi jangan takut kalau nangis. Karena menangis bisa menenangkan hati, Mengeluarkan hal-hal yang negatif dari hati. 

Tapi, sekali lagi, walau Anjasmara nggak bisa nangis, dia harus mulai mendamaikan diri. Mulai belajar ikhlas, bahkan mulai belajar saling melupakan.Gue bersyukur disini Damarwulan nggak sewatak sama Rama. He's not villain here. Ia bisa dibilang terjebak antara tanggungjawab dan perasaannya sendiri.

Damarwulan nggak mau Anjasmara berubah karena kepergiannya. Sesuai dengan pesan Damarwulan sebelum pergi: 

Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.

Bulan pun lambat dalam angin, abai dalam waktu.

Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,

kulupakan wajahmu.



You May Also Like

0 comments

Thanks for read my blog