Bu, Ajari Anak Laki-lakimu Untuk Menangis.
Sejak kecil laki-laki selalu dilarang untuk menangis. Menangis selalu dianggap memalukan dan melemahkan laki-laki. Padahal menangis merupakan salah satu cara untuk meregulasi emosi. Sayangnya melarang anak laki-laki untuk menangis dapat menimbulkan laki-laki dewasa yang kesulitan untuk memahami perasaannya. Sehingga mereka pun hanya bisa mengekspresikan satu emosi yang diperbolehkan untuk dikeluarkan yaitu 'marah'—sebuah emosi yang diwajarkan muncul pada laki-laki oleh masyarakat.
Perlu diingat sejak awal, kekerasan, kriminalitas, atau ekstremisme tidak pernah lahir dari satu penyebab tunggal. Ia muncul dari pertemuan berbagai faktor seperti ketimpangan sosial, ideologi, ekonomi, relasi kuasa, hingga pola asuh. Namun di antara semuanya, rendahnya literasi emosional pada anak laki-laki sering kali menjadi mata rantai yang terlupakan.
Penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih mahir dalam mengelola emosinya. Bukan karena mereka secara alami lebih kuat mental melainkan karena perempuan diperbolehkan oleh masyarakat untuk mengungkapkan perasaannya lebih bebas daripada laki-laki. Kebebasan ini membuat perempuan mampu mempelajari emosinya sendiri yang menyebabkan mereka mampu bersimpati dengan baik kepada orang lain.
Anak laki-laki sebaliknya, sering hanya diberi ruang untuk satu emosi yang “boleh”: marah. Akibatnya, rasa kecewa, sedih, atau tersisih tidak benar-benar hilang, melainkan berubah bentuk menjadi emosi marah tersebut.
Patriarki pun tidak hanya merugikan perempuan namun juga merugikan laki-laki—memunculkan toxic masculinity, yaitu standar kelelakian yang menuntut dominasi, kendali, dan ketangguhan tanpa celah. Laki-laki diharapkan selalu kuat, logis, dan tidak mudah goyah. Ironisnya, tuntutan itu justru membuat banyak laki-laki tumbuh tanpa kemampuan emosional yang cukup. Mereka diajarkan bertahan, tapi tidak diajarkan memahami diri.
Tentu saja kondisi diatas tidak serta merta menggeneralisasi laki-laki menjadi penyebab masalah karena kurangnya kecerdasan emosional. Namun dalam banyak kasus—dari kekerasan berbasis gender hingga tindakan ekstrem berupa pembunuhan akibat penolakan—ada pola yang berulang yaitu ketidakmampuan mengelola emosi negatif secara reflektif. Emosi yang terus ditekan, ketika bertemu dengan rasa frustrasi dan pembenaran sosial tertentu, dapat meledak menjadi tindakan destruktif.
Disinilah pentingnya regulasi emosi yang baik bagi laki-laki sejak kecil. Menangis bukanlah akhir melainkan awal dari proses pemahaman perasaan. Yang lebih penting adalah kemampuan memberi nama pada emosi, mencari sumbernya, dan memilih cara merespons tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Tanpa proses ini, menangis hanya menjadi pelepasan sesaat tanpa pembelajaran.
Selain menangis, salah satu cara lain yang sering diremehkan dalam membangun literasi emosional adalah lewat sastra. Sebuah data menunjukkan bahwa laki-laki lebih sedikit membaca sastra terutama fiksi, sedangkan perempuan kebalikannya. Padahal membaca fiksi memungkinkan seseorang merasakan hidup dari sudut pandang orang lain. Memahami konflik batin dan menyadari bahwa kerentanan adalah bagian dari kemanusiaan. Bagi banyak laki-laki, ini bisa menjadi latihan empati yang lembut dan tidak mengancam.
Pada akhirnya, ajakan untuk “mengajari anak laki-laki menangis” adalah metafora yang lebih luas: mengajari mereka menjadi manusia yang utuh secara emosional. Bukan untuk melemahkan, tetapi untuk memperluas makna kekuatan. Bukan untuk menyalahkan laki-laki, tetapi untuk menyoroti sistem sosial yang gagal membekali mereka dengan bahasa perasaan.
Kalau kita ingin membangun masyarakat yang lebih aman dan sehat secara emosional, pertanyaannya bukan lagi “bolehkah laki-laki menangis?”, melainkan “mengapa begitu banyak dari mereka tidak tahu bagaimana memahami apa yang mereka rasakan?”. Dari kesadaran itulah, perubahan sejati bisa dimulai.

0 comments
Thanks for read my blog