selamanya tidak ingin di kenang

by - November 09, 2025


sebagai manusia, wajar ingin dikenang selama hidupnya. ada banyak hal yang disayangkan kalau dilupakan begitu saja. setidaknya ada yang bisa diceritakan ke anak cucu kita. 

saya sendiri tidak mau. mungkin saya bukan manusia. saya tidak ingin dikenang sedemikian rupa. entahlah. mungkin karena hidup saya terlalu memalukan untuk diingat dan terlalu membosankan untuk diceritakan. 

lalu, mungkin karena menumpuknya pengalaman traumatis dalam otak, saya jadi gampang melupakan. istilah kerennya short term memories. untungnya ini bukan sebuah penyakit yang perlu di terapi sedemikian rupa. walaupun begitu, short term memories ini mempengaruhi kehidupan sosial saya. 

acap kali ketika berkumpul bersama teman-teman, kami biasanya akan membicarakan masa yang lalu di sekolah sambil tertawa-tawa. sayangnya mulut saya hanya terkatup rapat selama percakapan karena di otak saya tidak secuil pun kenangan tersebut tersimpan. kenangan yang saya ingat cuma ketiduran di kelas waktu jam pelajaran. 

saya agak menyesal juga karena sering ketiduran di kelas, tapi mungkin karena kegiatan itu terasa menyenangkan sehingga saya selalu teringat. 

tapi bagaimanapun perihal 'kenangan' itu bukan sepenuhnya salah saya. saya sendiri tidak ingin membenci manusia, namun saya kerap membenci diri saya saat bersama manusia. itupun bukan sepenuhnya salah mereka, karena yang bermasalah disini adalah saya. kalau kata Taylor Swift sih, "it's me. hi, I'm the problem it's me." 

saya punya satu buku favorit judulnya No Longer Human karya Dazai Osamu. dia mengawali buku dengan ungkapan "hidupku adalah hidup yang memalukan." entah mengapa saya percaya kalau buku lah yang menentukan siapa pembacanya, bukan pembaca yang menentukan buku mana yang akan dibaca. saya kemudian berpikir mungkin buku itu saya baca bukan tanpa alasan... 

beberapa orang merasa tertekan membaca No Longer Human. saya bukan salah satu diantara mereka. saya justru 'sangat' menikmatinya. dari berbagai hal kontroversial yang dilakukan oleh Yozo — yang diyakini sebagai perwujudan asli dari Osamu — saya bisa paham dengan pemikirannya. bukan berarti saya mendukung 'suicide date' yang dia lakuin sama pacarnya ataupun ketergantungannya pada obat-obatan dan rokok. 

saya menyukai novel ini karena memotret seorang manusia dalam keadaan paling rapuh dan buruk. sebuah kejujuran paling pahit yang harus ditelan bulat-bulat, bahwa seringkali manusia tidak merasa menjadi manusia. dan ironisnya, itulah yang saya rasakan saat ini.

melihat tokoh Yozo membuat saya berpikir, selamanya manusia tidak bisa menjadi kosong. ketika ia kosong, maka hal-hal yang buruk bisa mengisinya tanpa terkendali. ia hidup dalam keluarga yang terhormat dan terpelajar. Yozo disukai banyak orang terutama wanita, tapi kekosongan dalam diri Yozo membuatnya menderita. 

saya juga menjalani hidup yang baik. saya yakin saya dicintai, tapi saya tetap merasa menderita. saya ingin melupakan hidup dan menghilangkan memori orang lain tentang saya. seperti Yozo, saya kerap menyakiti orang yang saya cintai. dan menyakiti orang lain dengan tangan sendiri, membuat saya sakit juga. saya tidak ingin hidup seperti ini terus.

saya ingin dilupakan.

You May Also Like

0 comments

Thanks for read my blog