ANOTASI BAB 1 BUKU I WANT TO DIE BUT I WANT TO EAT TTEOPOKKI 2 KARYA BAEK SE HEE DAN PERTANYAAN TENTANG SIKAP MENULIS YANG BURUK
Hari ini aku baca bukunya Baek Se Hee yang judulnya I Want To Die But I Want To Eat Tteopokki tapi yang keduanya. Nggak heran kenapa buku ini bisa best seller dan dibaca sama idol Korea karena emang se-relate itu sama kehidupan.
Walaupun baru baca bab 1 tapi aku udah mendapat banyak
pemahaman.
Dulu, walau aku suka nulis catatan harian, aku sering
tidak tahu apa yang harus aku tulis. Dulu alasan aku nulis buku harian adalah
biar nggak kelewatan banyak catatan hidup. Walau aku nulis tentang perasaan
aku, aku suka nggak ngerti kenapa aku bisa marah dan capek hari itu. Aku Cuma nulis
aku marah dan capek sebagai pelampiasan aja tanpa diusut mengapa aku bisa gitu.
Pas aku baca buku ini dan ternyata Baek Se Hee nulis catatan harian juga, aku jadi
paham apa yang harus aku tulis dibuku catatan itu. Aku harus nulis kejadian apa
aja yang bikin aku nggak enak di hari itu. Gara-gara banyak tugas, tugas
kelompok berasa tugas individu, atau karena aku takut dicap aneh sama
orang-orang. Seenggaknya itu yang harus diperjelas.
Kedua, aku dapet pemahaman untuk selalu menceritakan hal-hal
yang bikin aku nggak enak. Karena anehnya, kadang ketika kita lagi kesal sama
sesuatu, terus curhat ke temen, ternyata apa yang kita rasain itu remeh temeh
aja. Dulu aku ngira kalau gitu malah jadi nggak penting karena kita cerita hal
yang remeh doang. Tapi sekarang berpikir berarti hal yang bikin kesel tuh udah
mulai dikeluarkan dari diri kita. Hanya saja yang kita khawatirkan tentu saja
reaksi pendengarnya. Seringkali kita mendapat reaksi yang nggak sesuai
ekspetasi.
Kemudian aku ada satu pertanyaan yang berkaitan dengan
sastra tentang pernyataan Baek Se Hee ini yang bilang kalau buku-buku semisal
ini, yang menceritakan tentang luka atau penderitaan diri dianggap sikap
menulis yang buruk karena membawa-bawa personalitas hingga tidak objektif dan
malah terbawa kedalamnya. Apa yang dimaksud dengan ‘sikap menulis yang buruk’
tersebut? Apakah memang tabu atau kontroversial untuk menulis hal semacam ini?.
Aku sempat membaca kalau buku ini memang kontroversi di Korea karena jarang ada
buku yang membahas hal personal sepeti ini. Apakah statement itu hanya berlaku
di Korea atau malah berlaku di negara lain juga termasuk Indonesia?
Aku baru baca satu bab dari buku ini. Untuk bab-bab
selanjutnya kemungkinan besar aku menulis catatan seperti ini juga.
