KOREA: THE IMPOSSIBLE COUNTRY
Tidak bisa dipungkiri bahwa kini korea selatan adalah pusat industri hiburan yang mampu menyaingi hollywood. Kita semua sudah terkena demam korean wave. Dimana-mana, sedikit-sedikit drama korea, sedikit-sedikit idol korea, sedikit-sedikit style dan make up ala korea. Bahkan tidak sedikit dari kita yang menginginkan hidup di korea selatan.
Memangnya apa yang membuat kita ingin tinggal disana? Banyak dari kita ingin merasakan kehidupan yang menyenangkan ketika musim salju, belanja pakaian, aksesoris dan merchandise idol korea, atau bahkan hanya hunting foto ke tempat-tempat syuting drama korea.
Tapi apakah terpikirkan, orang korea sendiri senang tinggal di negaranya?. Mari lihat video dibawa ini.
Faktanya, sebagian besar orang korea tidak menginginkan tinggal di negaranya. Mereka menginginkan tinggal di luar negeri seperti Switzerland atau New York. Mereka mengakui bahwa hidup di Korea sendiri tidak mudah dan beranggapan bahwa Korea hanya diperuntukan bagi orang-orang yang memilki uang. Upah yang mereka dapatkan dari bekerja selama satu jam bahkan tidak cukup untuk membeli roti.
Budaya kantornya pun dinilai buruk. Para pekerja kantor tidak diberi kebebasan untuk mengembangkan diri. Mereka bisa saja terjebak dalam pekerjaan yang sama bertahun-tahun. Karena itulah orang Korea sering depresi dalam menghadapi dunia kerja.
Bisa disadari bahwa itu adalah salah satu alasan mengapa industri hiburan Korea berkembang pesat. Anak-anak muda bercita-cita menjadi penyanyi, aktor atau apapun yang berkaitan dengan industri hiburan. Karena pekerjaan tersebut dinilai atraktif dan memberi ruang untuk mengembangkan diri, walaupun harga yang harus dibayar pun cukup mahal.
Fakta lainnya, bahwa Korea adalah pemegang angka tertinggi tingkat stress penduduknya. Tidak mengherankan hal itu terjadi karena kerasnya kehidupan disana. Sejak kecil, mereka diajarkan untuk selalu rajin dan mendapat nilai tertinggi. Anak yang memiliki nilai terbaik dianggap sebagai murid terbaik. Jam belajar mereka bahkan mencapai 8 jam lebih. Sesudah pulang sekolah, mereka biasanya kembali belajar di tempat bimbingan. Para orangtua merasa bahwa nilai yang baik akan mengantarkan anaknya menuju universitas terbaik dan akhirnya mampu mendapat pekerjaan yang terbaik.
Dalam sebuah buku karya Kim Suhyun berjudul Hidup Apa Adanya, ia mengatakan bahwa jurnalis asal inggris, Daniel Tudor menyebut Korea Selatan sebagai The Impossible Country karena penentuan target hidup yang begitu tinggi sehingga sulit untuk diwujudkan. Mereka menginginkan pekerjaan yang menjanjikan, fisik yang ideal dan nilai yang terbaik.
Dalam buku tersebut, Kim suhyun membahas banyak hal terkait negaranya. Salah satunya adalah kebiasaan warga Korea Selatan untuk membandingkan sesuatu dengan angka. Misalnya; gaji, berat badan, tinggi badan hingga luas rumah yang ditempati. Masalahnya, karena angka terlalu spesifik mereka jadi berlomba-lomba menggapai hal yang sama. Namun, bukankah hidup semua orang tidak sama?. Kita seringkali kehilangan arah karena tidak menyadari hal itu. Lewat buku Hidup Apa Adanya, Kim Suhyun mengajak orang-orang untuk hidup sebagai diri sendiri.
Mengetahui fakta ini, bisa dimengerti mengapa korea dinobatkan sebagai penduduk dengan tingkat stress paling tinggi di dunia. Kebanyakan dari mereka terobsesi dengan materi; gaji yang tinggi atau tubuh yang ideal. Industri hiburan mengambil peran penting dalam hal ini.
Korea dengan label Impossible Country semata-mata tidak hanya menunjukan betapa tingginya ekspetasi mereka dalam kehidupan, tapi juga mempengaruhi tingkat psikologis masyarakatnya.
0 comments
Thanks for read my blog